Bali The Last Paradise Pura Makna Tamiang Dan Endongan Di Hari Raya Kuningan

Makna Tamiang Dan Endongan Di Hari Raya Kuningan

Makna Tamiang Dan Endongan Di Hari Raya Kuningan

Hari Raya Kuningan yang dirayakan umat Hindu 10 hari setelah Hari Raya Galungan ditandai dengan ciri khas sejumlah sarana, seperti tamiang, endongan, ter atau pun sampian gantung. Sarana itu dipahami sebagai simbol-simbol yang identik dengan alat-alat perang. Apa makna di balik simbol alat-alat perang itu?

Tamiang sendiri sering dimaknai sebagai simbol perlindungan diri, karena bentuknya seperti perisai, bentuknya yang bulat dipahami juga sebagai lambang Dewata Nawa Sanga yang merupakan penguasa sembilan arah mata angin.

Tamiang juga diartikan sebagai roda alam atau cakraning manggilingan yang dipahami sebagai roda kehidupan yang selalu berputar. Semuanya menjadi warisan budaya Hindu yang terjaga dengan baik yang berkaitan dengan kehidupan beragama di pulau Dewata Bali. Tamiang dipasang di pojok-pojok rumah dan di palingih-palinggih.

Kemudian ada sarana Ter, ter merupakan simbol dari panah yang berarti senjata untuk kelengkapan perang dalam kehidupan ini dan senjata paling ampuh adalah ketenangan pikiran, sarana Sampian gantung adalah sebagai simbol penolak bala, sedangkan Nasi Kuning sebagai lambang kemakmuran.

Selain itu terdapat juga Endongan bentuknya seperti sebuah kompek atau tas, yang berisi perbekalan ini sebagai simbol dari bekal bisa berarti bekal bagi para leluhur dan juga bekal bagi kita dalam mengarungi kehidupan ke depan dan bekal yang laing ampuh adalah jnana atau pengetahuan.

Dari sini akan mengingatkan manusia akan hakikatnya dalam kehidupan memang seperti sebuah peperangan, bagaimana mana manusia selalu berusaha berperang melawan hawa nafsu dalam diri dan keadaan untuk menemukan jalan dan kehidupan yang lebih baik, baik untuk kehidupan di dunia dan di akhirat nantinya.

 

6 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *